E M P I R I S M E



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dari dulu sampai sekarang ini, pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk membawa peserta didik kepada kehidupan yang lebih baik
, dan masalah sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari faktor pembawaan dan lingkungan.
Pembawaan dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk dijelaskan, sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi  berusaha mencari jawaban tentang perkembangan manusia itu sebenarnya bergantung kepada pembawaan ataukah lingkungan. Dalam hal ini penulis akan mencoba memaparkan dari aliran klasik, yaitu aliran empirisme.

B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, makalah ini dapat kita rumuskan sebagai berikut:
1.      Apa definisi aliran empiris?
2.      Tokoh-tokoh aliran empiris?
3.      Apa jenis-jenis aliran empiris?

C.    Tujuan Masalah
Dari paparan rumusan makalah diatas, maka penulisan makalah ini tujuannya adalah:
1.      Untuk mengetahui definisi empirisme.
2.      Untuk menjelaskan sejarah dan tokoh-tokoh aliran empiris.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis aliran empiris.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi Empirisme
Secara epistimologi, istilah empirisme berasal dari kata Yunani yaitu emperia yang artinya pengalaman.[1]
Menurut teori ini, manusia tidak memiliki pembawaan. Seluruh perkembangan hidupnya sejak lahir sampai dewasa semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar atau faktor lingkungan hidup dan pendidikan.
Teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali dalam proses perkembangan manusia. Menurut pendapat kaum empiris, lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang. Oleh karena itu dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pendidikan: “Pedagogik Optimisme” artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan pribadi seseorang.[2]
Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Doktrin aliran empirisme yang amat masyhur adalah “ tabulasi rasa“, sebuah istilah bahasa Latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet).doktrin ini menekankan arti pentingnya pengalaman, lingkungan dan pendidikan, sehingga perkembangan manusia pun semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman atau lingkungan yang mendidiknya.[3]
Aliran empirisme di pandang sebagai aliran yang sangat optimis terhadap pendidikan, sebab aliran ini hanya mementingkan peranan pengalaman yang di peroleh dari lingungan. Adapun kemampuan dasar yang di bawah anak sejak lahir di anggap tidak menentukan keberhasilan seseorang. Aliran ini masih menganggap manusia sebagai makhkluk yang pasif, mudah di bentuk atau di rekayasa, sehingga lingkungan pendidikan dapat menentukan segalanya.[4]

B.     Tokoh-Tokoh Aliran Empirisme
Aliran empirisme ini dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Gagasan pendidikan Locke dimuat dalam bukunya “Essay Concerning Human Understanding” . Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
 Biografi singkat tentang tokoh-tokoh emperisme sbb:
1.      John Locke
Lahir pada tangga l29 Agustus 1632 dan  meninggal tanggal 28 Oktober 1704 pada umur 72 tahun. Dia adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal. Bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era Pencerahan. Selain itu, Locke menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di dalam pendekatan filsafat waktu itu. Kemudian Locke juga menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Tulisan-tulisan Locke tidak hanya berhubungan dengan filsafat, tetapi juga tentang pendidikan, ekonomi, teologi, dan medis. Karya-karya Locke yang terpenting adalah "Esai tentang Pemahaman Manusia" (Essay Concerning Human Understanding), Tulisan-Tulisan tentang Toleransi" (Letters of Toleration), dan "Dua Tulisan tentang Pemerintahan" (Two Treatises of Government).
2.      David Hume
Lahir 26 April 1711 – meninggal 25 Agustus 1776 pada umur 65 tahun. Dia adalah filsuf Skotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukan sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia. Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi.  Karyanya The History of England.
David Hume ikut dalam berbagai pembahasan  dan memengaruhi perkembangan dua aliran. Aliran yang dipengaruhinya adalah skeptisisme dan empirisme.
Dalam hal skeptisisme, Hume mencurigai pemikiran filsafat dan di antara pemikirannya adalah bahwa prinsip kausalitas (sebab akibat) itu tidak memiliki dasar. Ia juga seorang agnostik, yakni orang yang berpendirian bahwa adanya Tuhan itu tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat diingkari. Dalam hal empirisme, suatu pandangan yang mengatakan bahwa segala pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Walaupun mungkin ada suatu dunia di luar kesedaran manusia, namun hal ini tidak dapat dibuktikan. Ia menolak sketisime, skeptisisme menurut beberapa filsuf adalah pandangan bahwa akal tidak mampu sampai pada kesimpulan, atau kalau tidak, akal tidak mampu melampaui hasil-hasil yang paling sederhana.[5]



3.      Francis Bacon
Francis Bacon (1561-1626), lahir di London di tengah-tengah keluarga bangsawan Sir Nicholas Bacon.
4.      George Berkeley
seorang filsuf Irlandia yang juga menjabat sebagai uskup di Gereja Anglikan. Bersama John Locke dan David Hume, ia tergolong sebagai filsuf empiris Inggris yang terkenal. Ia dilahirkan pada tahun 1685 dan meninggal pada tahun 1753.[6]
George Barkeley berpandangan bahwa seluruh gagasan dalam pikiran atau ide datang dari pengalaman. Oleh karena itu, idea tidak bersifat independen. Pengalaman konkret adalah “mutlak” sebagai sumber pengetahuan utama bagi manusia, karena penalaran bersifat abstrak dan membutuhan rangsangan dari pengalaman. Berbagai gejala fisikal akan ditangkap oleh indra dan dikumpulkan dalam daya ingat manusia, sehingga pengalaman indrawi menjadi akumulasi pengetahuan yang berupa fakta-fakta. Kemudian, upaya aktualisasinya dibutuhkan akal. Dengan demikian, fungsi akal tidak sekedar menjelaskan dalam bentuk-bentuk khayali semata-mata, melainkan dalam konteks yang realistik.

C.    Jenis-Jenis Aliran Empiris
1.      Empirio-kritisisme
Disebut juga Machisme. ebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.
2.      Empirisme Logis
Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah.
3.      Empiris Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi.
pada waktu manusia dilahirka, keadaan akalanya masih bersih ibarat kertas yang kosong yang belum bertuliskan apa pun (tabularasa). Pengetahuan baru muncul ketika indera manusia menimba pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagaian kejadian dalam kehidupan. Kertas tersebut mulai bertuliskan berbagai pengalaman indrawi.
Akal semacam tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil pengindraan. Hal ini berarti bahwa semua pengetahuan manusia -betapa pun rumitnya- dapat dilacak kembali sampai pada pengalaman-pengalaman indrawi yang telah tersimpanan rapi di dalam akal. Jika terdapat pengalaman yang tidak tergali oleh daya ingatan akal, itu berarti merupakan kelemahan akal, sehingga hasil pengindraan yang menjadi pengalaman manusia tidak lagi dapat diaktualisasikan. Dengan demikian, bukan lagi sebagai ilmu pengetahuan yang faktual.











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Menurut teori empirisme, manusia tidak memiliki pembawaan. Seluruh perkembangan hidupnya sejak lahir sampai dewasa semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar atau faktor lingkungan hidup dan pendidikan. Teori ini menganggap faktor pembawaan tidak berperan sama sekali dalam proses perkembangan manusia. Menurut pendapat kaum empiris, lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan perkembangan pribadi seseorang. Oleh karena itu dalam ilmu pendidikan aliran ini disebut dengan aliran pendidikan: “Pedagogik Optimisme” artinya pendidikan maha kuasa untuk membentuk atau mengembangkan pribadi seseorang.
Doktrin aliran empirisme yang amat masyhur adalah “ tabulasi rasa“, sebuah istilah bahasa Latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet).doktrin ini menekankan arti pentingnya pengalaman, lingkungan dan pendidikan, sehingga perkembangan manusia pun semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman atau lingkungan yang mendidiknya.
Aliran empirisme ini dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Gagasan pendidikan Locke dimuat dalam bukunya “Essay Concerning Human Understanding” . Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
Beberapa jenis aliran empirisme :
  1. Empirisme Kritis
2.      Empirisme Logis
3.      Empirisme Radikal

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Gramedia. Jakarta. 1996.
Rachman Abror, Abd. Psikologi Pendidikan. PT. Tiara Wacana Yogya. Yogyakart. 1993
Sukardjo dan ukim komarudin. landasan pendidikan konsep dan aplikasinya. PT.  Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2009.
Syah, Muhibbin. Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2014


















[2]  Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan,(Yogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogya,1993), halm. 24-25
[3] Muhibbin Syah, Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2014), halm. 19
[4]  Sukardjo dan ukim komarudin, landasan pendidikan konsep dan aplikasinya, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009) hal.19-21
[5]  Lorens bagus. Kamus Filsafat. (Jakarta: Gramedia. 1996). Hal. 1017-1018.